Mengenal Teknologi Perbankan dalam Menjaga Keamanan Data 

technicheblog.com – Sudah bukan menjadi hal yang baru lagi jika semua layanan perbankan yang ada di Indonesia hadir dengan proses transaksi yang cepat dan bisa diakses via online. Di tengah zaman yang semakin maju seperti sekarang ini layanan perbankan memiliki peranan yang sangat besar. Semakin majunya fasilitas yang dihadirkan jelas semakin memudahkan customer. 

Namun di tengah kompleksitas layanan yang diberikan, timbullah satu pertanyaan “Bagaimana teknologi perbankan bisa mengamankan data nasabah?” Mengingat akhir-akhir ini banyak kasus kebocoran data. Berikut ini uraian singkat mengenai sistem kerja teknologi perbankan dalam mengamankan data nasabah.

Mengenal Penyebab Kebocoran Data 

Melihat beberapa kejadian yang kerap terjadi, bisa disimpulkan kebocoran data nasabah bisa terjadi karena dua faktor. Kebocoran data bisa terjadi karena faktor internal serta eksternal. Terjadinya kebocoran data karena faktor internal bisa terjadi karena ada beberapa oknum perbankan yang menyalahgunakan tanggung jawabnya sehingga data nasabah diperjualbelikan kepada pihak ketiga.

kebocoran data

Disisi lain untuk faktor eksternal beberapa sumber menyebutkan bisa terjadi karena banyaknya transaksi melalui berbagai merchant yang menggunakan sistem pembayaran non tunai misalnya penggunaan kartu debit dan juga berbagai transaksi di e-commerce. 

Perlu untuk diketahui jika ada beberapa layanan pembayaran yang memiliki alat rekam. Ketika mesin digesek secara ganda pada mesin EDC (Electronic Data Capture) yang ada di layanan pembayaran ternyata gesekan yang kedua tersebut bisa merekam data milik nasabah. 

Untuk itulah tidak jarang banyak yang memberikan saran supaya lebih berhati-hati ketika sedang melakukan registrasi di berbagai e-commerce yang meminta data pribadi. Pasalnya banyaknya data yang beredar juga memberikan peluang terjadinya kebocoran data yang lebih besar.

Baca Juga : Bangkitnya Industri Mobil Listrik Tesla dan Perkembangannya di Indonesia

Teknologi Perbankan untuk Mencegah Terjadinya Phishing

Phishing merupakan salah satu cara penipuan yang kerap terjadi. Tujuan dari phishing yaitu untuk mengetahui informasi milik nasabah melalui cara ilegal. Phising biasanya terjadi melalui telepon, pengiriman email dan juga situs-situs palsu yang menyamar. Tindakan satu ini memang paling banyak bahkan sering sekali terjadi. Sayangnya sampai sekarang masih cukup banyak nasabah yang menjadi korban.

teknologi perbankan dalam menghadapi spyware

Demi mencegah banyaknya korban maka beberapa layanan perbankan aktif melakukan kolaborasi. Salah satunya dengan terus menerus memberikan edukasi kepada nasabah untuk tidak melakukan transaksi melalui nomor telepon dan website resmi perbankan. Hal ini biasanya dilakukan dengan melakukan iklan layanan serta memberikan himbauan aktif melalui berbagai platform perbankan.

Teknologi Perbankan untuk Meminimalisir Terjadinya Spyware

Banyak cara yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengambil data nasabah yaitu melalui spyware. Tindakan ini dilakukan menggunakan sebuah program yang bekerja untuk menginfiltrasi sebuah sistem tanpa disadari nasabah. Spyware kerap terjadi pada nasabah yang aktif melakukan transaksi via internet.

Hal ini jelas merugikan pengguna. Untuk itu pihak perbankan juga turun tangan dalam mengantisipasi terjadinya kebocoran data. Terkait dengan pencegahan terjadinya spyware beberapa perbankan di Indonesia sudah aktif dalam melakukan blokir terhadap berbagai situs yang dianggap mencurigakan serta bisa membahayakan data milik nasabah.

Mengganti Teknologi Pita Magnetik dengan Chip 

Seperti uraian sebelumnya di atas jika akhir-akhir ini kejahatan pencurian data marak terjadi di Indonesia. Skimming merupakan tindakan yang cukup banyak terjadi. Kejahatan ini bisa terjadi dimana-mana mengingat banyaknya oknum nakal sehingga banyak sekali oknum yang melakukan pemindaian di mesin ATM. Hal ini jelas merugikan nasabah.

teknologi perbankan menghadapi skimming

Banyaknya kasus skimming yang terjadi membuat Bank Indonesia turun tangan dengan mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No.16/1/2014 terkait dengan perlindungan data nasabah. 

Bentuk tindakan yang dilakukan yaitu dengan menghadirkan teknologi baru berupa chip sehingga lebih mutakhir dalam menjaga keamanan data nasabah. Maka dari itu saat ini layanan perbankan di Indonesia menghadirkan kartu ATM dengan kode Chip. Selain itu pihak perbankan juga memberlakukan verifikasi dua langkah dengan mengirimkan kode OTP kepada nasabah. 

Bank Terus Meningkatkan Sistem Keamanan

Pihak perbankan memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam mengamankan data milik nasabah. Untuk itu pihak perbankan terus menerus meningkatkan sistem keamanannya. Salah satu cara yang dilakukan yaitu dengan terus memastikan semua perangkat yang digunakan sudah sesuai dengan standar Internasional. Termasuk salah satunya produk perbankan berbasis aplikasi pinjaman online seperti Tunaiku yang merupakan produk dari Bank Amar yang menjamin keamanan data para nasabah.

Tidak berhenti sampai disitu saja, pihak perbankan juga terus menerus memperbaharui sistem keamanan melalui serangkaian proses audit. Dalam hal ini pihak perbankan juga mulai melakukan perpindahan penyimpanan data dengan menggunakan sistem penyimpanan cloud. Jenis teknologi satu ini dikenal lebih aman dibandingkan dengan penyimpanan secara konvensional. Mengingat sistem penyimpanan konvensional rentan dicuri oknum. Dalam penggunaan teknologi cloud yang dipilih tentu juga yang sudah memiliki sertifikat ISO dan sudah melalui serangkaian proses audit dari SGS, BI dan audit internal. 

Bagaimana, cukup rumit bukan kinerja sistem perbankan? Meskipun pihak perbankan memiliki tanggung jawab dalam dalam menjaga data, sebagai nasabah mari kita juga berkontribusi dalam mengamankan data sendiri. Yuk mulai berhati-hati dalam bertransaksi.